Tampilkan postingan dengan label obat herbal. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label obat herbal. Tampilkan semua postingan

Obat Herbal di Indonesia Perkembangannya Lambat

Indonesia sebenarnya memiliki potensi besar obat herbal dalam mengatasi berbagai penyakit, seperti halnya obat tradisional Tiongkok. Sayangnya, pengobatan herbal belum dimaksimalkan di dalam negeri.
 
"Herbal itu adalah sesuatu yang unik, tapi sayang kita tidak memiliki peneliti yang cukup. Maka itu, perkembangan obat herbal di Indonesia pun terkesan lambat," ujar Mulyo Rahardjo selaku CEO PT Deltomed Laboratories kala memberikan penjabaran mengenai solusi herbal untuk sariawan di FX Sudirman Jakarta, Rabu (16/4/2014).

 
Padahal, menurut dia, ada organisasi Perhimpunan Dokter Herbal Medik Indonesia (PDHMI) yang diketuai dr Hardhi Pranata yang juga dokter bagi Presiden Susilo Bambang Yudhoyono.

 
Ia berharap, ke depannya, Presiden Indonesia akan memiliki perhatian lebih terhadap pengobatan herbal sehingga Indonesia tidak akan selalu mengimpor obat tradisional yang sebenarnya bisa diproduksi anak bangsa. "Obat herbal impor membuat Indonesia diibaratkan hanya menjadi tukang jahit. Padahal obat herbal memiliki aset yang besar," tandasnya.


Sumber : http://showbiz.metrotvnews.com/read/2014/04/16/231501/perkembangan-obat-herbal-di-indonesia-masih-lambat 

Ingin membeli kapsul OBAT HERBAL ? Klik di sini

40 Manfaat Bawang Putih Untuk Pengobatan

Bawang putih (Allium sativum) berasal dari Asia tengah tinggi sekitar 50-60 cm dan termasuk kedalam family Liliacea. Untuk penyembuhan dianjurkan agar mengkonsumsi bawang putih dalam bentuk mentah, segar, berwarna putih dan tidak ada tanda-tanda akan tumbuh tunas sebnyk 3 siung per minggu. Bawang putih yang baik adalah umbinya penuh, tidak lunak, bebas dari kerusakan dan noda hitam serta tidak bertunas hijau.  

A. KANDUNGAN GIZI BAWANG PUTIH : Bawang putih paling banyak nilai gizinya dibanding dengan jenis bawang yang lain, yaitu : 1. Vitamin C 2. Mineral P, Ca dan K 3. Fe dan Vitamin 

B. MANFAAT / KHASIAT BAWANG PUTIH UNTUK PENGOBATAN :  

1. BRONCHITIS  

1 Siung bawanng putih + 15 gram jahe + 3 buah mengkudu / pace matang dipotong-potong. Semua bahan lalu diblender dengan air secukupnya, lalu direbus hingga mendidih. Tambahkan madu secukupnya, aduk sampai rata dan kemmudian diminum (LAKUKAN SECARA TERATUR).  

2. INFLUENZA  

2 batang daun bawang putih + 10 gram jahe + 2 buah mengkudu / pace yang matang dicuci bersih lalu dipotong-potong. Semua bahan diblender dengan air secukupnya, lalu direbus hingga mendidih kemudian airnya diminum selagi hangat.  

3. REMATIK  

15 gram akar bawang putih + 5 butir cengkih + 1 buah mengkudu / pace yang matang dicuci lalu dipotong-potong. Semua bahan diblender dengan air secukupnya kemudian diminum.  

4. BERI-BERI  

1 siung bawang putih + 50 gra pepya matang + 100 gram anggur. Semua bahan dijus tambahkan air secukupnya lalu diminum.  

5. MIGRAIN  

2 batang daun bawang putih + 15 gram jahe + 5 buah manggis (ambil dagingnya). Semua bahan diblender dengan air secukupnya lalu diminum.  

6. DARAH TINGGI (HIPERTENSI)  

1 siung bawang putih + 1 buah pisang + `5 gram jamur hioko yang telah direndam samaoilebut, lalu dikukus hingga matang. Semua bahan diblender dengan air secukupnya, tambahkan 2 sendok makan madu aduk rata kemudian diminum.  

7. RADANG TELINGA  

2-3 batang daun bawang putih + 30 gram daun lidah buaya yang telah dikupas kulitnya + 3 buah manggis (ambil dagingnya). Semua bahan diblender dengan air scukupnya lalu diminum.  

8. SINUSITIS  

2 batang daun bawang putih + 10 gram jahe + 10 gram rambut jagung diblender dengan iar hangat secukupnya, lalu diminum.  

9. ASMA  

7 Siung bawang putih dimasukan kedalam bagian tengah 1 buah melon ukuran kecil (yang telah dikupas kulitnya) yang telah dilubangi, lalu tutup kembali. Setelah itu kukus sampai matang dan blender dengan air secukupnya, lalu diminum.  

10. BATUK  

1 siung bawang putih + buah belimbing manis diblender dengan air secukupnya, lalu tambahkan 2 sendok makan madu, aduk rata lalu minum.  

11. DIARE  

5 buah bawang puith yang telah dukukus, diblender dengan 150 cc air hangat. Minum selagi hangat.  

12. GONDONGAN (PAROTITIS)  

3 batang daun bawang putih + 1 butir putih telur ayam (rebus hingga matang) diblender dengan air secukupnya + madu secukupnya, aduk rata lalu minum.  

13. MELANCARKAN PEREDARAN DARAH

Kunyah dan telanlah 1 siung bawang putih secara rutin setiap hari, untuk melancarkan peredaran darah dan membuka sumbatan pada pembuluh darah.  

14. SERING BUANG AIR KECIL (POLYURIA)  

Bawang putih secukupnya + 10 gram jahe + 250 gram ubi jalar merah dibakar dengan kertas aluminium foil hingga matang. Semua bahan direndam dengan air garan selama 2 jam, lalu saring airnya. Setelah disaring airnya, semua bahan diblender dengan air secukupnya lalu diminum.  

15. HAID TERASA SAKIT  

3 batang daun bawang putih + 15 gram adas diblender dengan 200 cc air hangat, lalu diminum.  

16. KANKER LAMBUNG  

20 gram bawang putih diblender denga air saringan seduhan teh hijau dan 500 cc air panas selama 5 menit, lalu tambahkan 25 gram gula merah kemudian diminum.
 
17. KANKER PARU-PARU  

Bawang putih dijus secukupnya, lalu diminum sebanyak 10-30 cc.  

18. KANKER PAYUDARA  

3 siung bawang puith + 200 gram brokoli dikukus 30 menit , lalu diblender dengan air secukupnya. Tambahkan 2 sendok makan madu, aduk rata lalu diminum.  

19. PENCEGAH KERACUNAN  

6 gram bawang puith dibersihkan lalu dimakan selama dua kali sehari.  

20. BISUL, BOROK DAN BENGKAK KARENA KERACUNAN  

Bawang putih secukupnya ditumbuk lalu dibubuhkan kebagian tubuh yang sakit tutup denga kain / verban.  

21. DISENGAT LIPAN  

Tumbuk bawang putih secukupnya dan tempelkan pada bagian tubuh yang terasa sakit.
 
22. OBAT PENCEGAH PILEK  

Tumbuk bawang putih secukupnya sampai halus kemudian tambahkan air matang yang dingin secukupnya sampai tercampur. Campuran ini teteskan ke hidung secara teratur.  

23. PENCEGAH DISENTRI  

10 gram bawang putih dikupas kulitnya tumbuk halus rendam selama 6 jam dalam air hangat yang matang dan tambahkan gula secukupnya. Bagi tiga bagian dan minum 3 X sehari.

24. TBC  

30 gram bawang putih berwarna keunguan kupas kulitnya + 30 gram beras. Bawang putih yang telah dibersihkan masukan kedalam air mendidih selama 1 menit (masak setengah matang). Air rebusan bawang putih campur dengan beras, masak kedalam dandang. Makan setelah makan nasi Lakukan setipa hari dengan tambahan konsumsi bawang putih 4-5 siung setiap hari selama 100 hari.  

25. PENCEGAH RADANG SELAPUT OTAK BELAKANG  

5 gram bawang putih bersihkan, lalu dimakan pada waktu makan. Selesai makan cuci mulut dengan air garam . Lakukan selama 3 hari.  

26. PENDARAHAN HIDUNG  

Tumbuk 10 gram bawang putih dan letakkan ditelapak kaki bagian tengah penderita. Jika pendarahan berasal dari hidung sebelah kanan, bawang putih tadi letakkan dibagian telapak kaki sebelah kanan penderita, begitu sebaliknya. Jika pendarahan dari kedua lubang hidung, maka letakkan dikedua telapak kaki. Pendarahan tidak akan berhenti sampai telapak kaki panas.  

27. RADANG LAMBUNG AKUT.  

Kupas kulit 6 gram bawang putih tambahkan garam secukupnya kemudian ditumbuk. Kemudian tambahkan air hangat yang matang dan sajikan 1-2 kali sehari kepada penderita. Lakukan selama beberapa hari.

 28. PENGUMPULAN CIRAN SEROSA DIDALAM RONGGA PERUT (ASCITES)  

Penyebabnya karena mengerasnya jaringan hati. Untuk pengobatan bawang putih secukupnya direbus dalam minyak kacang tanah dan dimakan sebagai sayur. Lakukan tiap hari selama 2-3 bulan.  

29. IMPOTENSI  

10 gram bawang putih + 10 gram adas + 25 gram pulosari + 20 gram merica + 5 gram kunyit + 10 gram madu + 2 butir telur ayam kampung. Bahan adas, pulosari, merica dan bawang putih ditumbuk halus jadi satu dan bubuhi air panas secukupnya. Setelah agak dingin campurkan madu dan kuning telur ayam tadi lalu aduk hingga rata. Ramuan ini diminum menjelang tidur malam atau pada pagi hari dua kali dalam seminggu selama sebulan.  

30. MENINGKATKAN STAMINA  

Makan 1 siung bawang putih bersama daun seledri. Lakukan sehari dua kali ( pagi dan sore hari ).  

31. SAKIT GIGI  

Umbi bawang putih secukupnya dihancurkan terlebih dahulu lalu sisipkan kedalam gigi yang sakit kemudian angkat setelah 15 menit. Bila terasa panas membakar jangan diulangi ramuan ini.  

32. ISTRI MANDUL  

2 siung bawang putih + 10 gram umbi bangle + 5 gram jungrahap + 5 gram kencur + 5 gram manis jangan. Semua bahana dicampur ditumbuk halus, kemudian diberi air panas lalu diperas dan disaring hingga airnya tersisa1 gelas. Ramuan ini diminum pagi hari dan lakukan dua hari sekali.  

33. MEMPERTAHANKAN KEBUGARAN TUBUH

Haluskan bawang putih secukupnya + wortel secukupnya + daun seledri + merica bubuk + garam secukupnya. Blender semua bahan sebagai jus. Minum jus tersebut dua kali dalam satu minggu dan lakukan secara teratur.  

34. MEMPERTAHANKAN GAIRAH SEKSUAL

35. MENURUNKAN KADAR KOLESTEROL  

36. MENURUNKAN GULA DARAH

37. MENGHILANGKAN LOGAM BERAT  

38. MELINDUNGI SERNGAN KANKER  

39. PENAWAR RACUN  

40. PENGOBATAN GANGGUAN PENCERNAAN.
   
Demikian diantara manfaat bawang putih sebagai obat herbal alami / obat tradisional yang bisa diterapkan.

Sumber : http://forum.kompas.com/kesehatan/247395-40-manfaat-bawang-putih-untuk-pengobatan.html

Ingin membeli kapsul ekstrak BAWANG PUTIH ? Klik di sini

Gunakan Obat Herbal untuk Terapi? Bisa, Tapi Perhatikan Dulu Kaidah Ini

Di Indonesia, penggunaan obat herbal sebagai terapi untuk mengatasi masalah kesehatan masih dilakukan masyarakat. Apalagi jika digunakan sebagai komplementer yang dikombinasikan dengan pengobatan konvensional (obat-obatan kimia).

Namun, dalam memberi obat herbal berbahan baku tanaman obat sebagai terapi penunjang pengobatan konvensional, menurut Kepala Poliklinik Komplementer Alternatif RSU Dr. Soetomo, Surabaya, dr Arijanto Jonosewojo, SpPD FINASIM, harus diperhatikan kaidah 4T dan 1W.

"Pemakaian tanaman obat sebagai obat herbal harus 4T yaitu tepat indikasi, tepat penderita, tepat obat, tepat dosis dan cara pemberian, lalu 1W yaitu waspada efek samping obat," terang dr Arijanto dalam Press Conference The 1st Natural Wellness Symposium di Ritz Carlton Kuningan Hotel, Mega Kuningan, Jakarta Selatan, dan ditulis pada Minggu (6/4/2014).

Tepat indikasi merujuk pada penggunaan obat yang memang sesuai dengan kondisi penyakit pasien. Tepat penderita, pemberian obat harus sesuai dengan umur pasien. Misalnya obat untuk anak belum tentu cocok untuk orang dewasa.

"Kita juga harus tepat dosis dan menginformasikan kepada pasien bagaimana cara pemberian obat. Misalnya, jangan sampai kita lupa kasih tahu, obat yang harusnya dijadikan bobok (dibalur di bagian yang sakit) malah diminum," imbuh dr Arijanto.

Ia juga menekankan bahwa dalam pemakaian obat herbal harus diperhatikan efek samping obat karena bagaimanapun dalam tanaman obat yang dijadikan bahan obat herbal terdapat kandungan zat-zat tertentu yang bisa menimbulkan reaksi berbeda di tiap orang.

Dikatakan dr Arijanto, penyelenggaraan pengobatan komplementer alternatif di fasilitas pelayanan kesehatan juga sudah tertuang dalam Keputusan Menteri Kesehatan No.1109 tahun 2007.

"Tujuannya untuk memberi perlindungan pada pasien, mempertahankan dan meningkatkan mutu pelayanan kesehatan, serta memberi kepastian hukum pada masyarakat dan tenaga pengobatan komplementer alternatif," jelas dr Arijanto.

Sementara itu, Staf Ahli Menteri Bidang Teknologi Kesehatan dan Globalisasi, Prof Dr dr Agus Purwadianto SpF(K), SH, MSi yang mengatakan bahwa di tubuh tiap orang ada sisi 'sakit' dan 'sehat'nya masing-masing. Maka dari itu Prof Agus menyarankan agar masyarakat tidak sembarangan mengonsumsi obat herbal.

"Boleh mengonsumsi obat herbal tapi gunakan yang memang sudah terbukti, ada evidence based-nya. Maka dari itu perlu adanya kerjasama antara pasien dan dokter," tutur Prof Agus.


Sumber : http://health.detik.com/read/2014/04/06/075142/2546819/763/gunakan-obat-herbal-untuk-terapi-bisa-tapi-perhatikan-dulu-kaidah-ini

Anda ingin membeli obat herbal? Klik di sini

Bijak Memilih Obat Herbal

Ada kebiasaan orang Indonesia, lebih suka berobat alternatif daripada dokter, atau pengobatan dengan herbal. Ada beragam jenis pengobatan herbal. Yang jelas, ada banyak alasan mengapa orang lebih memilih pengobatan/ mengkonsumsi daripada obat-obatan medis.
Obat herbal (termasuk jamu) berbahan tanaman. Bisa dari akar, batang atau daun. Tidak ada yang salah dengan mengkonsumsi obat-obatan herbal jenis apa saja. Jika itu memang membantu pemulihan penyakit Anda.
Dan perlu digaris bawahi, sesuai dengan yang dibutuhkan tubuh, serta berkonsultasi dengan dokter yang merawat. Karena hampir semua orang yang mengkonsumsi obat-obatan herbal (barangkali juga termasuk Anda), tidak memberi tahu dokter. Ini karena ’takut ketahuan’; ada anggapan bahwa semua dokter menentang segala jenis penggunaan obat-obatan herbal. Padahal bukan seperti itu.
Dokter melarang dengan alasan jika obat tersebut tidak bermanfaat bagi tubuh. Atau dalam kasus yang lebih banyak terjadi, karena yang dikonsumsi justru memperparah penyakit yang sudah diderita. ”Dokter itu bukan melarang, tapi pasien harus kritis, harus tahu kandungan yang ada dalam obat yang dikonsumsinya,” imbuh DR Dr Lestariningsih Sp PD KGH.
Obat herbal ada yang terbukti bermanfaat bagi kesehatan, ada juga yang memperparah. Jika kondisi tubuh menjadi lebih baik, dr. Lestari menyarankan, agar kesehatan Anda dicek lebih lanjut, karena sifatnya (efek dari obat) tidak pasti. Namun berdasarkan pengalamannya sendiri, beberapa pasiennya yang mengkonsumsi obat-obatan herbal, justru penyakitnya bertambah parah.
Misalnya obat herbal jenis jelly gamat. Pasien mengkonsumsi obat / makanan terapis ini dengan alasan untuk mengurangi/ menghambat kerusakan ginjal. Yang membuat kondisi pasien semakin memburuk adalah, tidak memperhatikan kandungan kalium pada obat. Padahal jika kandungan kalium tinggi, akan timbul efek samping seperti sesak napas.
Contoh lainnya, obat yang dikonsumsi justru menaikkan kadar kreatinin pada pasien gagal ginjal. ”Kalau ada yang mengatakan bahwa ada obat (herbal) yang bisa menunda cuci darah, itu tidak benar,” tegas dr. Lestari. Jika tidak paham dengan kandungan, serta bagaimana kondisi kesehatan, efeknya akan buruk.
Jika kita terbuka dengan dokter, kita bisa berkonsultasi, apakah obat yang kita konsumsi, aman/ layak atau tidak. Sebagai konsumen sekaligus pasien, kita harus waspada dan kritis terhadap apa yang akan kita konsumsi. Jangan mudah tergoda dengan imingiming cepat sembuh, tanpa harus operasi, dan sebagainya.

Label BPPOM

Pemerintah saat ini sedang menggalakkan penggunaan obatobatan herbal. Regulasi pemakaian obat herbal sudah diatur dalam Keputusan Menteri Kesehatan (Kepmenkes) Nomor 1109 Tahun 2007 tentang Penyelenggaraan Pengobatan Komplementer- Alternatif, di Fasilitas Pelayanan Kesehatan.
Selain itu, ada pula Kepmenkes Nomor 12 Tahun 2008 tentang Standar Pelayanan Herbal, dan Kepmenkes Nomor 3 Tahun 2010 tentang Saintifikasi Jamu dalam Penelitian Berbasis Pelayanan Kesehatan.
Pentingnya pengawasan dan registrasi dari BP POM, untuk menguji aman atau tidak, layak konsumsi atau tidak, halal atau tidak (jika obat tidak halal, BP POM akan memberikan keterangan pada label obat tersebut), dan apakah berbagai kandungan/ komposisi yang tertera pada label, memang benar/ akurat dengan isinya. Ini tentu saja supaya kita sebagai konsumen merasa lebih aman.
Banyaknya obat herbal yang beredar, bahkan yang tertera logo dan nomor register dari BP POM, bisa saja palsu. ”Tapi kita bisa mengecek keakuratannya, melalui situs resmi BPPOM. Itu berlaku untuk semua jenis obat dan kosmetik,” jelas Elisabeth Yoana MA, S.Farm, Apt., ahli farmasi SMC Telogorejo Semarang.
Jika obat pabrikan/ medis terdiri dari tiga jenis; obat bebas, obat bebas terbatas serta narkotika dan psikotropika, obat herbal juga terdiri dari tiga jenis, jamu, obat herbal berstandar dan fitofarmaka. Yang termasuk golongan jamu, adalah formula tradisional yang sudah digunakan turun-temurun, tanpa studi praklinis dan klinis, dan memiliki efikasi.
Sedangkan obat herbal dengan logo jamu seperti penghilang masuk angin, termasuk dalam obat herbal berstandar. Formulanya dari jamu atau penemuan obat herbal baru, sudah melalui uji praklinis (pada hewan), dan di kalangan profesi medis, digunakan sebagai terapi alternatif. Fitofarmaka merupakan jenis obat herbal yang paling tinggi, karena sudah teruji secara praklinis dan klinis. Formulanya mengandung obat dan mempunyai efek kuratif (menyembuhkan).
Baru ada enam jenis tanaman herbal Indonesia yang memenuhi standar fitofarmaka, diantaranya pegagan dan temulawak. Tiga jenis obat herbal ini, jika memang resmi dikeluarkan dari BP POM, memiliki logo lingkaran warna hijau pada kemasannya.
Lalu, yang tak boleh luput dari perhatian adalah label jenis obat yang tertera pada kemasan. Misalnya jenis parasetamol, dan yang tertera pada labelnya adalah sebagai obat nyeri dan pusing. Jika penjual/ produsen mengatakan bahwa obat tersebut bisa menyembuhkan penyakit lainnya (yang tidak tertera pada label), maka itu belum tentu terbukti. Jadi, selain yang tertera pada label, belum terbukti khasiatnya.
Banyak obat herbal yang beredar tanpa registrasi dari BP POM. Beberapa merupakan obat-obatan dari MLM (Multi Level Marketing). Alasan penjual biasanya karena obat-obatan ini seluruhnya impor, sehingga harga menjadi sangat mahal. ”Sebenarnya harga yang mahal bukan alasan untuk tidak memiliki izin beredar (di Indonesia).
Karena obat-obatan yang harganya sampai puluhan juta, dan terdaftar di BP POM itu ada. Kalau kita mengkonsumsi obatobatan yang tidak teregistrasi di BP POM, jika terjadi sesuatu yang buruk, kita tidak bisa menuntut,” jelas Yovita Dwi Arini, S.Farm, Apt. Apoteker SMC Telogorejo Semarang. Nah, kalau kurang cermat, kita juga yang akan rugi.

Obat Tetes Mata

Mengkonsumsi obat herbal tak hanya bagi yang menderita penyakit-penyakit dalam, tapi juga mata. Jika tak berhati-hati dan cermat memilih, maka efeknya akan buruk bagi organ penglihatan Anda.
Dr Fifin Luthfia Rahmi, SpM(K) menyatakan, ada sebuah kasus, di mana beberapa orang yang mengonsumsi obat tetes mata yang disebut herbal, mengalami mata yang meradang/ membengkak.
”Mata itu organ yang paling halus, mudah terkontaminasi kuman dan sebagainya. Makanya kita harus hati-hati, pastikan kandungan dan komposisinya aman untuk mata,” paparnya. Beberapa kasus yang pernah terjadi pada pasiennya, ada yang mengkonsumsi obat mata untuk katarak. Namun pada akhirnya sang pasien tetap harus menjalani operasi, untuk menyembuhkan kataraknya.
Sedangkan gangguan umum yang terjadi, adalah mata merah dan bengkak. Untuk itu, sebagai konsumen, Anda harus lebih teliti. Idealnya, satu jenis obat hanya untuk mengobati satu jenis penyakit. Jika ada satu untuk berbagai macam penyakit, maka obat tersebut belum teruji secara klinis.
Nah, memutuskan untuk mengkonsumsi obat-obatan herbal atau tidak, Anda bebas memilih. Namun tetap berhati-hati dan berkonsultasi pada dokter yang merawat Anda, demi penyembuhan yang aman.

Sumber : http://m.suaramerdeka.com/index.php/read/cetak/2013/11/17/243408

Anda ingin membeli obat herbal? Klik di sini

UGM Kembangkan Antibiotik Dari Mikroorganisme

Perguruan tinggi membutuhkan dukungan kebijakan dari pemerintah dan industri untuk memperkuat kemandirian nasional di bidang obat kesehatan. Pasalnya hampir 95% bahan baku obat yang beredar di masyarakat bahan bakunya berasal dari luar, padahal Indonesia memiliki keanekragaman hayati yang sangat besar sebagai bahan baku obat.
"Sampai saat ini kemandirian obat tradisional masih sangat rendah sekitar 95% kita masih impor dari luar. Kendala utama yang kita hadapi pada masalah investasi. Karena biaya pengembangan obat cukup besar," kata Dekan Fakultas Farmasi UGM Prof Dr Subagus Wahyuono MSc Apt, usai mendampingi kunjungan Badan POM RI ke UGM.
Menurutnya, obat tradisional di tanah air memang belum bisa bersaing dengan obat dari luar, bahkan hanya mampu beredar di dalam negeri saja. Namun begitu, pengembangan obat baru, obat tradisional dan obat sintetik asli dari Indonesia memiliki peluang yang cukup besar.
Dia mencontohkan, Korea memiliki ginseng yang khas dari negaranya, begitu pun Jepang dengan bahan baku obat ginkgo biloba. Di Indonesia sendiri banyak sumber bahan baku obat yang bisa digali. "Indonesia punya keunggulan yang seharusnya sudah diuji tuntas kemudian sudah diuji secara klinis," ujarnya.
Fakultas Farmasi UGM, katanya, tengah mengembangkan bahan baku obat dari mikroorganisme yang hanya ada di Idnonesia. Meski tidak menyebutkan nama jenis organisme tersebut, menurutnya mikroorganisme tersebut bisa dijadikan bahan baku obat antibiotik. "Kita butuh dukungan dari pemerintah untuk kemudahan dalam produksi," katanya.
Tidak hanya itu, peneliti Farmasi UGM juga melakukan penelitian bahan obat untuk penyakit degeneratif yang berasal dari tanaman herbal yang bisa membantu mencegah penyumbatan pembuluh darah kapiler di otak agar tidak terjadi stroke. 
Kepala Badan POM RI Dr Roy Sparringa MAPpSc menegaskan, pihaknya akan menggandeng UGM untuk kerjasama pengembangan bahan baku obat terutama untuk bahan obat tradisional, obat herbal dan bahan baku obat kosmetik.
"Kita juga membutuhkan riset untuk mendukung pengawasan lewat rapid test, menyiapkan laboratorium forensik obat palsu, dan bahan kimia obat," tambahnya.

Sumber : http://m.suaramerdeka.com/index.php/read/news/2014/03/15/194662

Anda ingin membeli obat herbal? Klik di sini

Bila Terbukti Efektif, Obat Herbal Bisa Masuk Paket Jaminan Kesehatan

Orang Indonesia sudah akrab dengan pengobatan tradisional seperti jamu atau obat herbal. Sayang, tidak semua obat herbal sudah lulus saintifikasi. Padahal, bila terbukti secara ilmiah dan efektif, obat herbal bisa masuk ke dalam paket jaminan kesehatan nasional (Jamkesnas).

"Itu yang saya tanyakan, apakah obat herbal bisa masuk ke dalam paket jaminan kesehatan nasional. Karena kalau dilihat di China dan Taiwan, pemilik kartu (jaminan kesehatan) dia boleh milih (obat medis atau obat herbal," jelas Wakil Menteri Kesehatan, Prof. Dr Ali Ghufron Mukti, MSc, PhD, disela-sela acara Seminar Sehari 'Sosialisasi Metode Kajian Ekonomi dan Teknologi Kesehatan Menuju JamKesNas 2014' di Hotel Manhattan Jl. Prof Satrio 1 Kuningan, Jakarta, Rabu (27/2/2013).

Menurut Prof Ghufron, obat herbal memungkinkan dimasukkan ke dalam paket Jamkesnas asalkan memang terbukti secara evidence base (ilmiah) melalui saintifikasi jamu. Bila memang sudah terbukti, barulah nantinya secara regulasi diputuskan untuk bisa atau tidak dimasukkan ke dalam paket jaminan kesehatan.

Seperti diketahui, Indonesia sangat kaya dengan keanekaragaman hayati. Ada sekitar 30.000 jenis tanaman dan 9.600 di antaranya telah terbukti memiliki khasiat. Dan hampir sebanyak 60 persen penduduk Indonesia mengonsumsi jamu dan hampir seluruh pemakainya merasakan jamu berkhasiat meningkatkan kesehatan.

"Barangkali kita nomor 2 atau 1 (pemilik keanekaragaman hayati) terbesar di dunia. Nah, kalau kita bisa memanfaatkan itu akan jauh lebih bagus. Tapi masalahnya ya tentu dipilih yang sudah terbukti secara ilmiah atau evidence base," lanjur Prof Ghufron.

Saintifikasi jamu bertujuan memberikan bukti ilmiah terhadap manfaat jamu sehingga ke depannya bisa diterima di kalangan medis atau dokter. Kementerian Kesehatan pun masih menjadikan saintifikasi jamu sebagai prioritas untuk menjadikan jamu sebagai tuan rumah di negeri sendiri.


Sumber : http://health.detik.com/read/2013/02/27/141531/2181125/763/bila-terbukti-efektif-obat-herbal-bisa-masuk-paket-jaminan-kesehatan

Anda ingin membeli obat herbal? Klik di sini

Obat Herbal Lebih Aman dari Obat Kimia?

Indonesia memiliki ribuan jenis jamu atau obat tradisional berbahan herbal. Namun, baru puluhan jenis obat herbal terstandar dan 5 jenis obat fitofarmaka atau obat herbal yang bisa diresepkan dokter.  Banyak orang percaya obat herbal lebih aman daripada obat kimia, namun bagaimana faktanya?
 
Menurut dokter pakar obat herbal Arijanto Jonosewojo, jika dibandingkan dengan obat kimia, obat herbal memang cenderung lebih aman. Pasalnya zat aktif pada obat herbal tidak sebesar pada obat kimia.
 
"Namun kembali lagi, keamanan obat herbal tergantung pada jenis obatnya dan siapa yang meminumnya. Agak sulit membandingkan keamanannya dengan obat kimia karena obat kimia pun seperti itu," ujarnya dalam konferensi pers Simposium SOHO Global Health Natural Wellness di Jakarta, Sabtu (5/4/2014).
 
Ia mencontohkan, sama seperti obat herbal, obat kimia pun memerlukan syarat karateristik peminumnya. Misalnya, penyandang diabetes perlu meminum obat metformin. Namun penyandang diabetes yang menderita gangguan ginjal tidak dapat meminumnya. 
 
Terlebih pada penyandang diabetes dengan gangguan ginjal yang diserta penyakit kardiovaskular. Ini karena metformin akan menambah beban ginjal jika diminum, dan berbahaya bagi orang dengan gangguan ginjal.

Demikian pula halnya dengan obat herbal. Meski mengandung bahan-bahan alami tetap saja tidak semua orang bisa meminumnya.
"Maka setiap dokter akan meresepkan obat herbal pun perlu dilihat dulu riwayat penyakit pasien. Perlu adanya individualisasi dalam peresepan obat," tegas Kepala Poliklinik Komplementer Alternatif RSU dr Soetomo ini.
 
Menurut dia, jika obat herbal diklaim 100 persen aman, maka jangan langsung mempercayainya karena faktor keamanan, selain bergantung pada individu yang meminumnya, juga pada dosis yang diberikan.
 
"Obat herbal itu tetap memiliki dosis. Jadi jika minumnya berlebihan, tentu tidak akan aman," tandasnya.
 
Sumber : http://health.kompas.com/read/2014/04/05/1519316/Obat.Herbal.Lebih.Aman.dari.Obat.Kimia.
 
Anda ingin membeli obat herbal? Klik di sini

Obat Herbal Hanya Digunakan untuk Pengobatan Alternatif? Ah Belum Tentu

Jakarta, Ketika membicarakan tanaman obat yang dijadikan bahan baku obat herbal untuk mengobati penyakit, biasanya yang terlintas di pikiran banyak orang adalah kata 'pengobatan alternatif'. Padahal belum tentu seperti itu.

Diungkapkan Kepala Poliklinik Komplementer Alternatif RSU Dr. Soetomo, Surabaya, dr Arijanto Jonosewojo, SpPD FINASIM obat herbal bisa digunakan untuk pengobatan alternatif dan pengobatan komplementer.

Pengobatan komplementer adalah pengobatan yang tidak meninggalkan pengobatan konvensional yang sudah dipakai. Misalnya pada pasien kanker, pengobatan yang dilakukan tergantung kasusnya yakni melalui radioterapi, bedah, atau kemoterapi.

"Kalau pasien tetap melakukan tiga terapi tadi ditambah herbal itu komplementer. Tapi kalau dia hanya mau pakai herbal saja itu alternatif. Untuk dokter bukan alternatif yang dipakai karena menggantikan. Tapi kita menggunakan complementary medicine yang sifatnya melengkapi," jelas dr Arijanto.

Pemaparan itu disampaikan dr Arijanto di sela-sela Press Conference The 1st Natural Wellness Symposium hasil kerja sama IDI dan SOHO Global Health di Ritz Carlton Kuningan Hotel, Mega Kuningan, Jakarta Selatan dan ditulis pada Minggu (6/4/2014).

dr Arijanto menuturkan layanan kedokteran komplementer alternatif dilakukan oleh dokter sebagai pilihan selain kedokteran konvensional. Pilihan pengobatan pun merupakan hak si pasien. Namun, tetap menjadi kewajiban dokter memperhatikan aman atau tidaknya penggunaan obat herbal yang dipilih pasien.

"Tapi ada juga yang tidak mau pakai herbal tapi di obat kemoterapinya ada kandungan daun tapak dara. Atau obat antiviral bahan bakunya daun sambiloto. Ini kan awalnya herbal yang diteliti, lalu direkayasa dan disintesis," imbuh dokter yang juga mengajar di Universitas Airlangga Surabaya ini.

dr Arijanto menekankan dokter bukannya menolak pemakaian obat herbal tetapi dokter terikat dengan undang-undang kedokteran yang mana dokter tidak diperbolehkan memakai obat-obatan yang belum memiliki evidence base.

"Sekarang dekan dari beberapa fakultas kedokteran juga sedang menggodok rencana memasukkan mata kuliah obat herbal ke dalam kurikulum untuk mempelajari bagaimana memakai herbal yang aman berdasarkan indikasi dan gimana penyesuaiannya kalau dipakai dengan obat kimia," kata dr Arijanto.


Sumber : http://health.detik.com/read/2014/04/06/095307/2546843/763/obat-herbal-hanya-digunakan-untuk-pengobatan-alternatif-ah-belum-tentu?l992203755

Anda ingin membeli obat herbal? Klik di sini

Deretan Obat Herbal Penyembuh Kanker (II)

DALAM upaya menyembuhkan penyakit kanker, ternyata obat herbal juga bisa membantu dalam proses penyembuhan kanker.

Obat herbal yang umum digunakan untuk membantu pengobatan kanker ialah meminum teh hijau. Hal itu bisa terjadi karena kandungan teh hijau bisa membantu menghentikan sel-sel kanker dalam tubuh.

Bukan hanya itu, masih ada obat herbal lain yang bisa Anda jadikan pegangan. Mau tahu? Simaklah ulasannya di bawah ini seperti dilansir Boldsky.

Chaparral
Chaparral adalah ramuan yang digunakan oleh penduduk asli Amerika untuk mengurangi rasa sakit dan peradangan. Bahan utama dalam chapparal diyakini memiliki sifat anti kanker, akan tetapi efektivitasnya bervariasi pada orang yang berbeda.

Echinacea
Echinacea ditemukan di Amerika Utara dan ditanam secara komersial di Eropa. Hanya sedikit orang yang memakai sebagai pengobatan herbal dan lebih sering dimanfaatkan untuk melawan gejala kemoterapi.

Essiac
Essiac adalah obat herbal yang dikembangkan di Kanada dan juga dikenal sebagai tea of life. Obat ini berguna untuk mengurangi rasa sakit, menyusutkan tumor dan mengeluarkan racun dari tubuh. Oleh karena itu, membuat obat ini menjadi bagian obat herbal untuk pengobatan kanker.

Teh hijau
Teh hijau juga dikenal sebagai teh China, dimana minuman ini terbuat dari daun kering tanaman Camellia sinensis Asia. Bukti klinis menunjukkan bahwa teh hijau menghentikan pertumbuhan sel-sel kanker. Oleh sebab itu, teh hijau dimasukan ke dalam salah obat herbal untuk kanker.

St John Wort
St john wort Ini adalah tanaman dengan bunga-bunga berwarna kuning dan memiliki nama lain goatweed dan tipton gulma. Pasien kanker seringkali merasa tertekan saat masa pengobatan dan tanaman ini sangat membantu mengangkat suasana hati seseorang.


Sumber : http://health.okezone.com/read/2014/02/11/484/939304/deretan-obat-herbal-penyembuh-kanker-ii-habis

Anda ingin membeli obat herbal? Klik di sini

Deretan Obat Herbal Penyembuh Kanker (I)

KATA siapa obat herbal tak bisa membantu menyembuhkan kanker. Realitanya, obat herbal juga bisa membantu menyembuhkan kanker dengan mematikan sel-sel  kanker dalam tubuh.

Ya, ada banyak bahan herbal yang bisa dimanfaatkan, meskipun jarang digunakan sebagai pengobatan utama. Beberapa di antaranya juga bisa mengurangi efek samping pengobatan kanker kovensional, seperti kemoterapi.  Lantas, apa sajakah obat herbal itu?

Berikut obat-obat herbal yang bisa Anda jadikan referensi, seperti dilansir Boldsky.

Aloe
Aloe adalah komposisi senyawa dari lidah buaya yang berguna dalam meningkatkan sistem kekebalan tubuh. Dari sisi klinis, juga sudah terbukti menjadi salah satu obat herbal yang efektif untuk kanker.

Pengobatan Ayurvedic
Ini adalah pengobatan India kuno yang masih banyak digunakan orang. Bukti klinis menunjukkan bahwa pengobatan ayurvedic efektif dalam mengurangi gejala kanker, dan bisa digunakan sebagai obat herbal untuk kanker.

Cohosh
Cohosh merupakan obat herbal yang ditemukan di Amerika utara. Pasien kanker payudara sudah banyak menggunakan ramuan ini sebagai obat herbal untuk kanker.

Obat bunga
Obat bunga merupakan ekstraksi dari gabungan  tanaman liar menjadi ramuan dan dikonsumsi langsung. Sejauh ini, tak ada bukti obat bunga sebagai obat herbal yang bisa mengobati kanker secara langsung. Akan tetapi, ramuan ini meningkatkan kekebalan tubuh dan membantu menghilangkan stres.

Carctol
Carctol adalah campuran dari delapan bahan herbal India yang dipromosikan sebagai pengobatan kanker. Ramuan ini bukanlah pengobatan alternatif dalam sisi pengobatan. Namun, orang-orang menyarankan untuk menjalani pengobatan itu dengan pengobatan kanker konvensional agar lebih efektif.


Sumber :  http://health.okezone.com/read/2014/02/11/484/939301/deretan-obat-herbal-penyembuh-kanker-i

Anda ingin membeli obat herbal? Klik di sini

Obat Herbal Masih Sebagai Pelengkap

KOMPAS.com - Indonesia memiliki lebih dari 2.000 spesies tanaman alami yang berpotensi untuk pengobatan bukan sebatas pencegahan. Tradisi minum jamu juga terpelihara secara turun temurun, dan terbukti khasiatnya secara empiris. Namun, obat herbal masih menjadi pelengkap lantaran minimnya riset yang bisa memberikan bukti klinis khasiat obat herbal.

Kondisi ini membuat obat herbal lebih banyak dikonsumsi sebagai pelengkap. Juga tidak banyak dokter yang meresepkan, meski secara empiris banyak obat herbal yang berkhasiat mengobati penyakit. Sebut saja hipertensi, asam urat, serta sindrom metabolik atau kombinasi dari gangguan medis yang meningkatkan risiko terkena penyakit kardiovaskuler dan diabetes.

Riset SOHO Global Health menyebutkan, lebih dari 50 persen dokter belum meresepkan obat herbal. Padahal, Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) memperkirakan, empat miliar orang atau 80 persen dari populasi dunia saat ini menggunakan obat herbal juga untuk beberapa aspek perawatan kesehatan primer.

Prof Nyoman Kertia, MD, PhD, Peneliti dan Pakar Temulawak Universitas Gajah Mada (UGM) Yogyakarta mengatakan, banyak obat herbal dikonsumsi sebagai pencegahan. Obat herbal biasanya diberikan sebagai komplementer, diberikan dengan jeda dua jam dari obat kimia. Ini dikarenakan khasiat obat herbal memang tidak secepat obat kimia.

Disamping itu, lanjutnya, pemakaian obat herbal yang masih terbatas juga karena tidak adanya bukti klinis. Dokter pada umumnya meresepkan obat, termasuk obat herbal, hanya jika obat tersebut telah teruji klinis pada pasien.

Prof Nyoman menyayangkan kondisi ini. Karena menurutnya, dokter sebenarnya bisa meresepkan obat herbal berdasarkan penelitian berbasis pelayanan.

"Dokter boleh memberikan obat herbal, koridornya penelitian berbasis pelayanan. Jadi, saat memberikan obat herbal, dokter juga harus mendata pasien. Karena bukti empiris pada sejumlah herbal cukup kuat, meski belum teruji secara klinis. Dokter bisa memberikan ke pasien, asal jangan keluar dari ranah ini," ungkapnya di sela pembukaan SOHO Global Health Natural Wellness Sanctuary, di Central Park, Jakarta, Kamis (10/1/2013).

Menurutnya, obat herbal dalam bentuk ekstrak dari tanaman seperti temu lawak, kunyit, jahe, memiliki bukti empiris, efektif berkhasiat sebagai antiradang, antimaag, meningkatkan nafsu makan, mengobati liver dan ginjal, meningkatkan vitalitas tubuh dengan kandungan antioksidan tinggi, juga bisa mencegah kanker.

"Jika rutin diminum dua kali sehari dengan dosis 30 mg berupa ekstrak untuk orang dewasa, obat herbal terutama temu lawak punya banyak khasiat bagi kesehatan tubuh," terangnya.

Konsumsi obat herbal dalam bentuk ekstrak lebih efektif penyerapannya dalam tubuh karena partikelnya yang lebih kecil. Meski masih minim, bukti klinis mengenai khasiat obat herbal perlahan semakin terungkap. Salah satunya, berdasarkan hasil riset di Balai Besar Penelitian dan Pengembangan Tanaman Obat dan Obat Tradisional (B2P2TOOT) Tawangmangu.

Ir Yuli Widiastuti, MKes, Peneliti Senior B2P2TOOT, Kementerian Kesehatan RI, mengatakan hasil penelitian pada 2012 di Tawangmangu menunjukkan racikan jamu memiliki efikasi setara dengan obat modern, untuk hipertensi dan asam urat.

"Terapi jamu berbasis racikan memberikan hasil positif pada pasien jamu berbasis riset di klinik di Tawangmangu. Kami memberikan jamu racikan bukan sirup yang komponen utaman ekstrak. Resep diberikan berdasarkan diagnosis dokter," ungkapnya.

Hasil uji klinis pada pasien di Tawangmangu ini, menurut Yuli, bisa ditindaklanjuti terutama oleh industri jamu, untuk mengemas jamu racikan agar bisa dinikmati khasiatnya oleh lebih banyak orang.


Sumber : http://health.kompas.com/read/2013/10/10/1556179/Obat.Herbal.Masih.Sebagai.Pelengkap

Anda ingin membeli obat herbal? Klik di sini

Obat Tradisional

Obat tradisional adalah obat-obatan yang diolah secara tradisional, turun-temurun, berdasarkan resep nenek moyang, adat-istiadat, kepercayaan, atau kebiasaan setempat yang bersifat pengetahuan tradisional. Menurut penelitian masa kini, obat-obatan tradisional memang bermanfaat bagi kesehatan, dan kini digencarkan penggunaannya karena lebih mudah dijangkau masyarakat, baik harga maupun ketersediaannya. Obat tradisional pada saat ini banyak digunakan karena menurut beberapa penelitian tidak terlalu menyebabkab efek samping, karena masih bisa dicerna oleh tubuh.

Beberapa perusahaan mengolah obat-obatan tradisional yang dimodifikasi lebih lanjut. Bagian dari Obat tradisional yang bisa dimanfaatkan adalah akar, rimpang, batang, buah, daun dan bunga. Bentuk obat tradisional yang banyak dijual di pasar dalam bentuk kapsul, serbuk, cair, simplisia dan tablet.
Macam-macam Obat Tradisional

    Bawang putih
    Belimbing sayur
    Cengkeh
    Daun Dewa
    Jahe
    Jambu biji
    Jamu
    Jamur
    Kombucha
    Kencur
    Kunyit
    Mahkota Dewa
    Mengkudu
    Lidah Buaya
    Teh
    Temu lawak
    Pegagan
    Rosela
    Saga
    Sambiloto
    Sidaguri
    Sirih
    Yoghurt


Sumber : http://id.wikipedia.org/wiki/Obat_tradisional


Anda ingin membeli obat herbal? Klik di sini